Buat kamu para pencinta astronomi atau astrophotography, pasar teleskop pintar (smart telescope) dalam beberapa tahun terakhir ini memang lagi seru-serunya. Kalau sebelumnya kita sering dimanjakan oleh perangkat ringkas berukuran lensa 50mm seperti seri Seestar, sekarang ada pemain baru yang siap bikin gebrakan besar.
Perusahaan asal Hong Kong, Dwarflab, baru saja resmi memperkenalkan Dwarflab Draco. Perangkat ini digadang-gadang sebagai teleskop pintar paling ambisius yang pernah mereka buat, dirancang khusus untuk mendobrak batas kemampuan instrumen astrofotografi serba-guna berukuran kompak dan ringkas.
Langsung berhadapan dengan pesaing barunya seperti Seestar S50 Pro, apa sih yang bikin Dwarflab Draco ini begitu spesial? Yuk, kita bedah tuntas fitur-fitur gahar yang dibawanya dalam artikel santai berikut ini.

Desain Optik Lebih Besar, Tangkap Cahaya Lebih Cepat
Hal paling mencolok dari Dwarflab Draco tentu saja ada pada sistem optiknya. Draco dibekali dengan lensa berukuran 90mm (3,5 inci) dengan bukaan f/3.8. Angka ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan standar teleskop pintar kelas 50mm (2 inci) yang populer belakangan ini.
Menggunakan desain optik lipat (folded optical design), Draco mampu mengemas aperture 90mm tersebut bersama panjang fokus 340mm ke dalam bodi yang tetap ringkas. Berkat rasio fokus cepat f/3.8, teleskop ini mampu mengumpulkan lebih banyak cahaya dalam waktu yang jauh lebih singkat. Hasilnya? Waktu yang kamu butuhkan untuk memotret objek-objek langit yang redup jadi jauh lebih efisien!
Fitur Dewa: Sensor Putar untuk Eksposur 5-Menit Tanpa EQ Mount!
Biasanya, kalau kamu mau melakukan pemotretan langit dalam durasi yang panjang (long exposure), kamu butuh peralatan tambahan yang ribet. Mulai dari equatorial mount, polar alignment yang bikin pusing, sampai guide scope terpisah agar gambar tidak kabur karena rotasi bumi.
Nah, di sinilah Dwarflab Draco bikin semua orang geleng-geleng kepala. Draco memperkenalkan teknologi rotating CMOS sensor (sensor CMOS yang bisa berputar) yang dikombinasikan dengan sistem built-in autoguiding. Sensor ini secara fisik mampu mengompensasi rotasi medan bintang (field rotation) secara otomatis.
Hasilnya? Pengguna tidak lagi memerlukan equatorial mount atau polar alignment yang rumit untuk bisa mendapatkan hasil foto jernih. Kamu bisa melakukan pemotretan dengan durasi eksposur tunggal hingga lima menit penuh hanya dalam mode alt-azimuth standar! Buat para pemburu galaksi dan nebula, fitur ini bener-bener sebuah game-changer.
(Image credit: DwarfLab)
Selain itu, bagi kamu yang suka mengolah data foto secara profesional (post-processing), Draco mendukung ekspor file dalam format FITS, selain tentunya format umum seperti JPG, PNG, dan TIFF.
Sensor 50 Megapixel & Pendingin Aktif (Active Cooling)
Bukan cuma soal mekanisme tracking-nya saja yang canggih, urusan sensor gambar pun Draco tidak main-main. Teleskop ini dibekali dengan sensor CMOS berukuran 1/1.3 inci beresolusi 50 megapiksel yang punya sistem kerja cerdas:
-
Mode Deep-Sky (Nebula & Galaksi): Sensor akan menggabungkan piksel (pixel binning) untuk menghasilkan gambar beresolusi sekitar 12 megapiksel dengan tingkat sensitivitas cahaya yang jauh lebih tinggi.
-
Mode Planet & Bulan: Sensor bisa beralih ke resolusi penuh 50MP untuk menangkap detail-detail permukaan bulan dan planet dengan sangat tajam.
Belum cukup sampai di situ, Draco juga dilengkapi dengan fitur active cooling (pendingin aktif)—sebuah teknologi yang biasanya hanya bisa kamu temui pada kamera astrofotografi profesional berharga mahal. Sistem pendingin ini berfungsi menekan noise pada sensor akibat panas mesin, sehingga hasil foto malam hari jadi jauh lebih bersih dan jernih.
Otomatisasi Penuh Lewat Aplikasi & Hadir dalam 2 Varian
Sebagaimana layaknya teleskop pintar modern, seluruh proses pemotretan di Dwarflab Draco diotomatisasi sepenuhnya melalui aplikasi Dwarflab di smartphone kamu. Cukup pilih target objek langit yang diinginkan, dan teleskop akan otomatis melakukan focussing, kalibrasi, tracking, pengambilan gambar, hingga proses stacking secara langsung (live stacking).
Buat kamu yang hobi bereksperimen, tersedia juga Pro Mode yang memberikan kontrol manual penuh atas pengaturan eksposur, gain, hingga pemilihan filter.
Dwarflab menghadirkan Draco dalam dua pilihan edisi yang bisa kamu sesuaikan dengan kebutuhan hobi astrofotografimu:
-
Standard Edition (US$1,299 / sekitar Rp20 jutaan): Versi ini sudah dilengkapi dengan filter internal dual-band H-alpha/OIII untuk pemotretan nebula, serta integrated solar filter otomatis yang langsung terpasang untuk pengamatan matahari.
-
SHO Edition (US$1,499 / sekitar Rp23 jutaan): Versi ini menggantikan filter solar internal dengan tambahan filter sulfur (sulfur filter). Sangat cocok buat kamu yang ingin menangkap tiga panjang gelombang narrowband sekaligus demi menghasilkan foto bergaya klasik ala Hubble Palette. Sebagai gantinya, edisi ini menyertakan filter solar eksternal di dalam paket penjualannya.
Jadi, Dwarflab Draco membuktikan bahwa teknologi teleskop pintar terus berkembang dengan sangat cepat. Dengan kombinasi lensa besar 90mm, sensor putar yang memungkinkan eksposur 5 menit tanpa EQ mount, sistem pendingin aktif, serta resolusi sensor 50MP, Draco sukses mencuri perhatian para pencinta astronomi global.
Apakah perangkat ini bakal menjadi standar baru untuk teleskop pintar kelas menengah ke atas? Kita tunggu saja kehadirannya di pasaran luas! Kalau kamu punya budget lebih, tertarik nggak nih buat meminang si canggih yang satu ini?



