Memahami Fotografi Burung

Posted by Ardi 26/12/2018 0 Comment(s)

Memahami Fotografi Burung

 

Dari banyak ”cabang” dalam fotografi, rasanya cabang memotret burung adalah cabang yang jarang terangkat. Selain untuk melakukannya butuh peralatan yang relatif mahal, memotret burung jelas tidak bisa dilakukan setiap saat.

 

Kompas, 14 Aug 2018

Walik Rawamanu (Ptilinopus doheretyi), endemik Pulau Sumba

 

Pelaku cabang fotografi memotret burung tidaklah sebanyak pelaku cabang fotografi lain, seperti makro, model, atau juga perjalanan. Namun, pelaku fotografi burung umumnya fanatik dan terhubung satu dengan yang lain di seluruh Indonesia, bahkan banyak yang terhubung dengan rekan dari benua lain.

 

Para pelaku fotografi burung bisa muncul serempak pada musim-musim migrasi burung. Mereka bisa dijumpai di daerah Puncak, Jawa Barat, atau kadang di Pulau Rambut di Kepulauan Seribu pada musim-musim migrasi burung yang meninggalkan daerah musim dingin. Namun, secara umum, para pencinta foto burung ini akan berburu foto di sejumlah tempat yang memungkinkan. Makin langka burung yang terpotret, makin tinggi nilai foto yang mereka banggakan.

 

Kesulitan utama memotret burung adalah satwa ini berada di atas kita dan gerakan mereka cepat dan tak terduga. Menurut Riza Marlon, fotografer satwa terkemuka di Indonesia, memotret burung terbaik pada pagi hari dan sore hari.

 

”Pagi hari mereka mulai beraktivitas, sementara sore mereka mulai pulang ke sarang untuk beristirahat. Kita harus mempelajari dulu tempattempat khusus mereka itu,” kata Riza yang sudah menghasilkan beberapa buku tentang satwa liar Indonesia ini.

 

Pekan lalu, Taman Nasional Matalawa di Pulau Sumba menyelenggarakan lomba foto dan pengamatan burung on the spot yang diikuti 50 peserta dari seluruh Indonesia. Lomba yang untuk kedua kalinya diadakan setelah tahun 2017 itu memang berhasil merekam beberapa burung endemik Pulau Sumba seperti yang ada di halaman ini.

 

Pulau Sumba tercatat memiliki 150 jenis burung, dan 10 di antaranya hanya ada di Pulau Sumba (endemik). Pada lomba tahun 2018 ini, sepasang burung hantu khas Sumba yang bernama lokal Pungguk Wengi (Ninox rudolfi) berhasil menjadi salah satu pemenang. Pemotretan burung hantu jelas harus dilakukan pada malam hari dengan dilengkapi kesabaran dan ketekunan.

 

Menurut Ketua Balai Taman Nasional Matalawa Maman Surahman, pada tahun mendatang lomba memotret dan pengamatan burung di Taman Nasional Matalawa akan ditambah dengan lomba pemotretan satwa lain. ”Masih banyak satwa endemik Sumba yang juga menarik untuk difoto,” kata Maman.

Source : https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20180814/282364040512061

 

Leave a Comment