Rumor Sony Bikin Kamera Medium Format, Cuma Angin Surga atau Bakal Jadi Kenyataan?

Buat kamu para pencinta fotografi, rumor soal Sony yang mau bikin kamera medium format sendiri sebenarnya bukan barang baru. Isu ini sudah berembus sejak bertahun-tahun lalu—tepatnya sejak Sony mulai menyuplai sensor medium format untuk brand-brand saingannya.

Nah, belakangan ini rumor tersebut makin kencang setelah Sony memamerkan blok sensor gambar Rialto 65 berformat 65mm untuk kamera sinema Venice 2 mereka. Sontak, komunitas fotografi langsung heboh. Banyak yang berspekulasi kalau Sony bakal merilis lini kamera fotografi baru dengan sensor raksasa dan lens mount baru.

Tapi, apakah rumor ini bakal jadi kenyataan, atau cuma sekadar "angin surga" alias mimpi di siang bolong? Yuk, kita bahas secara santai kenapa proyek ini kemungkinan besar nggak akan terjadi.

Two digital cameras are displayed on a white background: a larger black Phase One medium format camera on the left and a more compact black Sony Alpha mirrorless camera on the right, both with attached lenses.

photo: petapixel

Berawal dari "Wild Rumor"

Situs Sony Alpha Rumors sendiri yang pertama kali mengembuskan omongan ini sebenarnya sudah mewanti-wanti kalau ini adalah "wild rumor" alias rumor liar yang bersumber dari informan anonim.

Tipster tersebut mengklaim bahwa Sony memilih ukuran sensor 54 x 36 mm untuk Rialto 65 karena ingin mempertahankan aspek rasio 3:2 khas lini Sony Alpha. Katanya, lensa full-frame Sony FE nanti bisa dipakai di kamera medium format ini lewat crop mode—mirip seperti kita pasang lensa APS-C ke bodi kamera full-frame.

Kedengarannya keren, kan? Tapi kalau dipikir-pikir, aspek rasio 3:2 di dunia sinema itu hal yang lumrah banget buat kebutuhan open gate atau lensa anamorfik. Jadi, alasan Sony membuat sensor tersebut kemungkinan besar murni untuk urusan video profesional, bukan kode rahasia kalau mereka mau bikin kamera format besar untuk fotografi.

Pasar Medium Format Itu "Niche" dan Mahal

Sony memang sudah satu dekade memproduksi sensor 50 MP dan 100 MP untuk kamera mirrorless medium format seperti Fujifilm GFX dan Hasselblad X2D. Meskipun kedua brand tersebut punya pasarnya sendiri, harus diakui kalau pasarnya tidak seramai full-frame.

Kamera dan lensa medium format itu terkenal mahal, relatif lambat, dan tidak sefleksibel kamera full-frame. Alat ini adalah specialty tools untuk kebutuhan super spesifik.

Kalau Sony nekat bikin kamera dengan sensor 54 x 36 mm yang jauh lebih besar, harganya bisa selangit! Bisa-bisa menyentuh angka puluhan ribu dolar seperti sistem Phase One yang harganya Rp700 jutaan ke atas. Pertanyaannya: siapa yang mau beli dalam jumlah massal?

Sony Itu Perusahaan yang Konservatif (Risk-Averse)

Sony adalah perusahaan raksasa yang sangat berhati-hati dalam mengambil risiko. Mereka jarang sekali berjudi di pasar yang potensi pertumbuhannya kecil.

Sony berani bereksperimen di dunia sinema lewat Rialto 65 karena mereka tidak perlu membuat ekosistem lensa baru dari nol dan pasarnya tidak mengganggu lini produk mereka yang lain.

Sebaliknya, kalau mereka bikin kamera fotografi medium format, Sony harus mendesain mount baru dan jajaran lensa baru. Ini butuh biaya riset dan pengembangan (R&D) yang masif!

Bisa Merusak Pasar Full-Frame Sendiri

Alasan paling logis kenapa Sony nggak akan bikin kamera medium format adalah karena mereka tidak mau merusak pasar kamera full-frame andalan mereka sendiri.

Saat ini, Sony gencar memasarkan kamera resolusi tinggi seperti Sony a7R VI atau Sony a1 II dengan klaim bahwa kualitas gambarnya sudah melebihi standar profesional. Ditambah lagi dengan teknologi sensor terbaru seperti Dual Gain Output (DGO), dinamis rentang (dynamic range) dari Sony a7R VI yang berkekuatan 67 MP sudah hampir menempel ketat kamera medium format 100 MP milik kompetitor.

Jadi, buat apa Sony capek-capek bikin sistem kamera seharga ratusan juta kalau kamera full-frame mereka yang seharga Rp60 jutaan sudah bisa memenuhi 95% kebutuhan fotografer dengan performa yang jauh lebih ngebut dan pilihan lensa yang melimpah?

Fokus Bertarung di Ranah Full-Frame

Daripada buang-buang duit dan sumber daya untuk pasar medium format yang sempit, Sony jauh lebih untung jika memfokuskan energinya untuk bertarung di pasar full-frame melawan Canon dan Nikon. Pasar ini jauh lebih gemuk dan menghasilkan perputaran uang yang masif bagi Sony.

Tapi bisa nggak Sony bikin kamera medium format? Jelas bisa banget! Mereka punya teknologinya, modalnya, dan ahlinya. Tapi secara bisnis, langkah ini dinilai kurang menguntungkan dan terlalu berisiko buat Sony.

Jadi, buat kamu yang berharap ada kamera cetakan "Sony Medium Format" dalam waktu dekat, mendingan fokus maksimalkan kamera full-frame yang ada sekarang. Toh, kualitasnya sudah lebih dari cukup untuk bikin karya yang luar biasa!

Kalau menurut kamu sendiri, apakah Sony perlu nekat masuk ke pasar medium format, atau tetap fokus di full-frame saja?

Dapatkan Kamera dan Lensa Sony dengan Harga Terbaik di DOSS

image header: pronews